Selasa, 02 November 2010

CERPEN GURU 2


ANTARA AKU, GURU DAN MEREKA

Oleh: Peti Priani Dewi

Mentari berseri mengiringi perjalananku. Aku mulai mengintip ke balik jendela bus yang aku tumpangi menuju Kota Baja, Cilegon. Kota yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Namun, aku tertarik untuk menjajakinya. Seorang teman memberikan kabar bahwa ada sebuah sekolah yang membutuhkan tenaga pengajar. Dan itu peluang yang tak boleh disia-siakan. Dua minggu pascawisuda aku tengah menantikan panggilan lamaran yang telah kukirimkan ke beberapa sekolah dan tempat bimbingan belajar yang ada di kota kelahiranku, Garut. Namun, panggilan kerja tersebut tak kunjung datang.
            Belum pernah terbayang dalam anganku bahwa sebentar lagi aku akan mengajar di sebuah Sekolah Menengah Pertama di tengah Kota. Aku pernah mendapatkan pengalaman mengajar anak-anak perkotaan saat praktik mengajar di sebuah SMA di Bandung. Aku pernah pula mengajar anak-anak SD di sekolah daerah pedesaan selama satu bulan saat acara Pengabdian Masyarakat yang diadakan kampusku. Namun, aku tak pernah memiliki pengalaman mengajar anak-anak SMP. Tapi itu bukan kendala untuk mewujudkan cita-citaku sebagai guru. Tinggal sedikit lagi, satu langkah lagi maka mimpi itu akan kuraih. Aku sudah menyatakan setuju ketika ditawari pekerjaan itu, dan aku pasti bisa!
Tiba-tiba aku terhentak kala anganku yang lain bertanya. Apakah aku akan betah tinggal di sana? Apakah aku akan menikmati hari-hari mengajarku dengan menyenangkan? Apakah aku bisa menjadi guru yang dirindukan siswanya? Dan aku belum memiliki jawabannya. Kita lihat saja nanti.
***
Perjalanan yang melelahkan, tapi cukup menyenangkan. Aku segera membereskan barang-barangku di sebuah rumah mungil atau lebih tepat disebut mess yang disediakan untukku di belakang sekolah. Jendela kamarku tepat menghadap lapangan luas sebagai arena bermain bola. Menyenangkan sekali menikmati pemandangan tenggelamnya matahari sambil menyaksikan para remaja yang tengah bermain bola. Canda tawa dan teriakan menjadikan permainan bola semakin bergairah dan hidup. Aku tenggelam di dalamnya dan besok adalah hari pertamaku mengajar.
Keesokan paginya setelah Kepala Sekolah memperkenalkan aku pada rekan guru lainnya aku langsung diberi kesempatan untuk menemui muridku di tiga kelas yang berbeda, yaitu kelas akselerasi, kreatif dan aktif  pada tingkat yang sama untuk memberi tahu kepada mereka bahwa guru lamanya telah pindah dan aku yang akan menggantikannya. Kemudian aku memasuki ruang kelas menjumpai tiga puluh tiga wajah dengan tiga puluh tiga karakter. Rio sedang memukuli meja sambil berteriak melantunkan lagu Nidji. Adha selalu berpindah tempat mengelilingi seluruh ruangan kelas. Tasha menari-nari di sudut jendela, kain kepala berkibaran tersapu angin. Anita menjerit-jerit histeris menangisi guru lamanya. Dua puluh sembilan tubuh lainnya melakukan berbagai kegiatan. Aku mulai mengambil daftar nama.
Nama-namanya panjang dan asing di telingaku! Keisha Silmi Millati, Moza Prazilla, Fawwaj Lehaz Permana, Shinta Aurelia Wardhansyah, Adhi Setiadji Majid, dan banyak lagi. Akankah aku bisa mengingat nama sepanjang dan seasing itu dengan orangnya?
Aku pun mulai memperkenalkan namaku. Nama Ibu Sukmawati. Kalian cukup memanggilku bu Sukma saja. ”Bu, boleh lebih singkat lagi gak panggil namanya?” celoteh Adha. Belum sempat aku jawab, Rio pun menguatkan celotehannya. ”Iya kita cukup panggil ibu dengan bu Suk saja. Lebih singkat dan hemat energi.”
”Hu .........” semua murid berkoar.
”Busuk? Buah kali.” Anita berkomentar.
”Baiklah, Ibu rasa kalian akan lebih merasa terhormat dan dihargai jika nama pemberian orang tua kalian itu dimaknai dengan benar isinya dan bukan menjadi bahan cemoohan atau guyonan. Begitu pun dengan ibu. Ibu akan sangat senang jika kalian memanggil nama ibu dengan Bu Sukma bukan Bu Suk yang  memiliki konotasi negatif.”
”Bu Sukma!” Bolehkah aku izin ke kamar mandi?” Teriak Anita sambil mengacungkan tangannya.
”Tidak, duduklah. Kita akan mulai belajar.”
”Kepala sekolah bilang Ibu adalah guru yang baik! Tetapi, kenyataannya Ibu tidak baik padaku.” Ketus Anita.
Rio mulai memukuli meja kembali dan bernyanyi.
    kau masih berdiri
    kita masih di sini
    tunjukkan pada dunia
    arti sahabat

    kau teman sehati
    kita teman sejati
    hadapilan dunia
    genggam tanganku

”Anak- anak!” Aku memulai dengan sewibawa mungkin. ”Keluarkan buku bahasa Indonesia kalian!” Semakin pelan Rio mengakhiri lagu Nidji-nya. Sementara itu, kamu, siapa nama kamu? Ramiz? Ramiz, botol-botol minuman itu bukan Buku Bahasa Indonesiamu. Jadi silakan buang ke tempat sampah jangan kau mainkan!” Aku berteriak marah. Seketika anak-anak terdiam, mata mereka tertuju padaku.  Mereka menunggu kata-kata dan tindakanku berikutnya.
Aku menarik napas, memandang ke sekitar luar ruangan kelas untuk menutupi ketegangan dan kemarahanku, mencari bantuan yang tidak ada. ”Ada yang bisa memberi tahu ibu materi yang sudah disampaikan pada pertemuan sebelumnya?”
***
Detik dan hari terus berlari, menit dan minggu terus berlalu. Dua bulan sudah aku mengajar tetapi aku belum mampu mengendalikan kelas paling aktif yang pernah kutemui. Belum bisa kutaklukan siswa paling enerjik yang kujumpai sepanjang pengalaman mengajarku. Tak jarang hingga larut malam aku memikirkan cara mengendalikan kelas dan anak-anak yang super aktif. Aku mulai membaca lagi buku-buku perkembangan psikologi remaja atau merenungkan kembali teori-teori belajar yang pernah aku dapatkan semasa kuliah dulu. Aku juga mencari informasi tentang budaya kota dan gaya hidup perkotaan yang kini melingkupiku.
Terkadang aku diselimuti kekecewaan dan kelelahan. Aku mendapati diriku tak ingin berhadapan dengan keterbatasanku sendiri. Saat liburan tiba aku selalu mencari tempat terbuka dan luas untuk berteriak sebagai cara lain melepaskan diri dari kepenatan dan ketegangan selepas mengajar. Tak jarang aku adukan keluh kesahku pada Tuhan di sela-sela malamku. Aku senantiasa meminta petunjuk-Nya agar diberikan kekuatan dan kesabaran untuk menjalani rutinitas mengajarku. Meskipun terkadang aku pun tertawa menyaksikan tingkah laku mereka, kepolosan mereka, canda tawa, dan keceriaan mereka sebagai tanda perkembangan remaja. Tapi kehawatiran kerap muncul saat aku akan mengajar di kelas aktif itu.
”Apa yang sedang kamu pikirkan, Sukma?” tanya bu Rini, guru BK paling senior di tempatku mengajar.
”Aku hanya mencemaskan hari esok. Aku akan mengajar di kelas aktif dan aku takut tak bisa mengendalikan diriku dan murid-muridku dengan baik.”
”Janganlah kamu bersedih dan berputus asa! Belum genap satu tahun, kan? Cobalah mendekati mereka dengan hati dan ketulusan. Perasaan mereka akan lebih peka dan tersentuh. Pahamilah dunia mereka, dengarkan dahulu setiap asa dan keinginannya, baru sesudah kau dapatkan hati mereka, mereka akan mendengarkan dan menuruti kemauanmu.” Selamat mencoba dan beristirahatlah sehingga kamu besok akan mengajar lebih fresh!
***
”Selamat pagi Anak-anakku tercinta!”
”Selamat pagi, Bu!” Jawab anak-anak serempak.
”Hari ini cuaca di luar cukup cerah dan kita akan belajar di lapangan bola belakang sekolah. Kita akan membebaskan pikiran kita, mencari inspirasi untuk puisi kita.”
”Uh... males! Sok melankolis gitu!” celetuk Adha.
”Wah, aku mau, Bu! Sekarang ibu sudah jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya dan tiga bulan yang lalu. Saat itu aku sakit hati karena ibu tidak mengizinkan aku ke kamar mandi. Atau selalu menegurku untuk tidak menari-nari sambil melihat ke luar jendela. Padahal di luar jendela aku sedang mencari ide buat puisi dan cerpenku.” Jelas Anita panjang lebar.
Oke terima kasih Anita telah mengingatkan. Baiklah kita akan menuju lapangan secara tertib dan pastikan tidak ada yang terlambat satu pun karena sebentar lagi kita akan menyaksikan penampilan paling akbar di kelas sepanjang semester ini!”
 ”Wah ada kejutan apalagi yang bu Sukma berikan buat kita?” bisik Moza pada Shinta.
”Aku juga bingung hari ini ada apa ya dengan bu Sukma, Anita, kita, dan kelas kita? Ada perubahan atmosfir yang besar dan dahsyat!” Shinta bergumam sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
”Hus ngaco kamu! Pake Perubahan Atmosfir segala, terlalu lebai dan berlebihan.” Ayo kita harus bergegas ke lapangan.
”Anak-anakku sebelum kita menulis puisi agar lebih terinspirasi lagi,  marilah kita sambut lantunan sebuah tembang dari Rio Nidji!”
Rio terhentak, tapi dia langsung maju bergaya Giring menyanyikan lirik-lirik lagu Arti Sahabat. Beberapa kawannya ikut bernyanyi, berjingkrak, melompat, atau hanya sekadar memberikan tepukan. Riuh dan ramai sekali.
”Lagi! Lagi! Lagi!” Semua siswa berteriak kompak.
”Hebat sekali ya penampilan Rio Nidji tadi. Tapi tidak kecewa dulu, jika kalian hari ini mau belajar menulis puisi yang temanya tentang Pahlawan di Hatimu pertemuan berikutnya Rio dan kawan-kawan akan tampil kembali untuk menghibur kita semua.”
”Bu, tapi aku tak bisa menulis puisi. Pikiranku selalu buntu untuk memilih kata-kata terbaik dan penuh makna. Aku tak bisa.” pinta Keisha.
”Ada yang mau membagi pengalaman menulis puisinya dengan Keisha.” tanyaku penuh harap.
”Aku pernah membaca sebuah buku menulislah dengan hati! Hadirkanlah emosi terdalammu dalam tulisan! Dijamin tulisanmu akan memikat hati semua orang. Iya kan, Bu?”   tanya Anita mencari penguatan.
***
Malam ini aku sadari bahwa ternyata murid-muridku tidak hanya membutuhkan bantuan membaca dan menulis saja, transfer ilmu dan pengetahuan semata, tetapi lebih membutuhkan bantuan dan pemahaman dalam kehidupan mereka. Mereka membutuhkan kasih sayang, kepercayaan diri, dan imajinasi. Maka sejak saat ini aku akan mengajaknya bernyanyi dengan riang, bertepuk tangan, bercanda tawa, dan menari. Akan aku gali minat dan bakatnya untuk menjemput harapan, impian, dan kebahagiaan di masa yang akan datang. Akan aku sentuh hati, jiwa, dan nuraninya agar tercipta dan tumbuh cinta di antara kami.
Esok aku masih menunggu mentari berseri kembali. Ketiga puluh tiga pahlawan kecilku memelukku erat penuh haru sambil berpuisi dan bernyanyi.

Telah kutemukan ”mawar-mawar” indah yang tumbuh dalam jiwa itu, kita akan dapat mengabaikan duri-duri yang muncul. Kita akan terpacu untuk membuatnya merekah dan terus merekah hingga berpuluh-puluh tunas baru akan muncul. Pada setiap tunas itu akan berbuah tunas-tunas kebahagiaan, ketenangan, kedamaian, yang akan memenuhi taman-taman jiwa kita.*

*: Kutipan Toni Herlambang

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Copyright © 2008 Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez | Blog Templates created by Web Hosting Men